Apr 29, 2011

Malaikat Tersesat


Bagaimana mungkin sesosok malaikat mencintaiku?

Sayapnya separuh mengembang menghalang silau yang masuk lewat jendela kamar, berpendar, memancar titik-titik cahaya yang memantul dari rambut tembaga.

Ia datang tiba-tiba, ketika aku baru membuka mata setelah melintas mimpi yang panjang. Membangunkanku dengan desah napasnya: napas yang tak biasa. Ia datang tanpa aku minta.

Tuhan menitipkan salam untukmu bisiknya pesona. Ia nyata, senyata selimut kelabu yang menutup separuh badanku, juga kertas-kertas yang berhamburan di lantai kamar: tulisan-tulisan yang tak pernah selesai.

Mungkin ia turun dari langit saat aku tidur semalam; memperhatikanku terlelap hingga subuh, menatap mataku yang pejam, sambil sesekali bernyanyi lirih
:nyanyi surgawi.

Aku tak pernah tahu apa yang membawanya kepadaku, yang aku tahu kini ia mengulurkan tangannya yang sedingin batu, beku. Seketika ia memberi cinta.

Ia lenyap begitu saja. Angin menerobos tirai yang tadi terhalang sayap putihnya. Aku kembali sendiri, tersesat antara maya dan fana, antara ingat dan lupa. Bahkan potongan kata menertawakanku.

Bagaimana mungkin sesosok malaikat menyakitiku?


28 April 2011

Apr 21, 2011

Puisi Cinta untuk Indrasmara


Kau tahu, Indrasmara, rindu tak semudah ketika kau mengucapkannya.

Indrasmara, andai saja aku bisa menerjemah mimpi ke dalam kata, kau akan mengerti betapa kejamnya cinta.

Aku ingin masuk ke dalam duniamu, Indrasmara, dunia yang tak kuhafal, tapi selalu kucoba mengejanya perlahan.

Subuh selalu mengingatkanku padamu, terkadang ingatan itu merusak mimpi, tapi apalah arti mimpi yang terlupa karena itu pasti tentangmu, Indrasmara.

Maka kutulis puisi yang mendayu dayu tentangmu, setiap pagi, sambil menatap langit yang tercabik reranting pohon kapuk.

Indrasmara, beberapa orang terlambat datang. Ah, andai tak ada kata terlambat, Indrasmara, untuk mencapai hatimu yang selembar daun itu1.

18 April 2011







1 terinspirasi sajak Sapardi Djoko Damono, “Hatiku Selembar Daun”.

Apr 17, 2011

Kau Memanggilku Malaikat: Populerkah Malaikat?



/1/ Sastra Populer; Sastra yang Termarjinalkan

Dalam dunia kesusastraan, sastra populer seringkali dipandang sebelah mata dan dianggap kurang layak dipelajari dalam kegiatan akademis. Hal ini terbukti dari minimnya pembelajaran mengenai sastra populer itu sendiri di institusi resmi seperti universitas. Salah satu alasannya, sastra populer bukanlah suatu ilmu yang harus dan penting untuk dipelajari. Karya sastra populer, sekonyong-konyong diberi cap ‘tidak setara’ dengan karya sastra lain yang sifatnya lebih serius. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga muncul jurang pemisah tersebut?

Sastra populer sendiri pada awalnya merupakan salah satu wujud dari seni massa. Adorno mengemukakan, kebudayaan massa yang dipengaruhi oleh industrialisme dan kapitalisme menuntut suatu hiburan (seni) yang bernilai guna dan bernilai profit. Dari kebudayaan itulah muncul suatu produk seni yang berdaya jual dan mampu memuaskan masyarakat. Produk seni yang dihasilkan tentu saja yang dapat dinikmati oleh semua orang dan tidak mengacu pada golongan-golongan tertentu. Karena orientasinya adalah pasar, maka produk tersebut tidak lagi dihasilkan berdasarkan ‘keinginan’ produsennya, melainkan selera konsumen. Apa yang saat itu dapat menjadi komoditas dan bernilai jual, maka itulah yang diproduksi. Secara tidak langsung, konsumen menjadi pengendali atas munculnya produk-produk seni tersebut.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, sastra populer merupakan salah satu wujud dari permainan komoditas tersebut. Masyarakat –dalam konteks ini merupakan masyarakat awam, membutuhkan hiburan berupa bacaan yang sifatnya ringan dan mudah dicerna. Maka muncullah berbagai bacaan ringan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar, seperti novel-novel percintaan remaja, polemik rumah tangga, atau kisah tragis perjalanan hidup seseorang. Yang disajikan cenderung klise, mudah ditebak, dan tidak menimbulkan pertanyaan apa-apa setelah membacanya, mengingat karya-karya ini memang sekadar berfungsi sebagai hiburan saja.

Penulis-penulis populer pun banyak bermunculan, misalnya di Indonesia, sebut saja Mira W. yang terkenal dengan novel percintaannya, Hilman dengan Lupus yang fenomenal, atau yang terbaru dan sempat mendongkrak sastra populer-reliji, Habiburrahman El-Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta-nya. Karya-karya mereka memang klise, namun memiliki daya jual dan dapat menghibur masyarakat dari segala lapisan.

Karena sifatnya yang sekadar menghibur itulah karya sastra populer dianggap kurang bermutu oleh kaum elit sastra. Poin-poin yang diutamakan dalam karya sastra populer tentu saja berbeda dengan karya sastra ‘serius’ yang memegang teguh prinsip dulce et utile. Sastra, menurut golongan elit, merupakan suatu wujud ekspresi diri yang tidak boleh ada campur tangan pembacanya. Sastra merupakan seni murni, perwujudan hasrat untuk berkarya, entah ada atau tidak yang membacanya nanti. Sastra bukanlah sebuah komoditas.

Perbedaan antara kedua ‘kelompok’ tersebut bukan hanya berupa sudut pandang dalam memaknai kata ‘sastra’ atau ‘berkarya’ itu sendiri, melainkan terdapat pula unsur-unsur lain yang menurut Ken Gelder dalam Popular Fiction: The Logics and Practices of a Literary Fields menjadi pembeda dalam menilai apakah suatu karya dapat dikatakan populer atau tidak.

Karya sastra populer pada umumnya menampilkan suatu realitas mimpi yang bersifat subjektif, misalnya seseorang yang bercita-cita berkuliah di luar negeri. Pemunculan stereotype termasuk dalam unsur ini, misalnya tokoh idola dalam novel remaja hampir selalu adalah siswa tampan, vokalis band, aktif dalam OSIS, dan berasal dari keluarga berada –hal yang sangat klise.

Unsur lain yang menjadi pembeda dari karya sastra populer adalah bahasa yang digunakan sederhana dan tidak memberatkan pembacanya, karena tujuan utama sastra populer adalah menghibur para pembaca dan berorientasi pada masyarakat umum. Keaslian atau orisinalitas dalam sastra populer juga sedikit dan lebih banyak merupakan pengulangan dari cerita-cerita yang pernah ada sebelumnya. Terakhir, karya sastra populer lebih menitikberatkan pada alur yang disusun sedemikian rupa sehingga muncullah alur kompleks dengan klimaks yang sesuai dengan apa yang dinantikan oleh para pembaca. Meskipun termarjinalkan dalam dunia kesusastraan, toh sastra populer tetap memiliki penggemarnya sendiri, yang tidak mau bersusah-susah dalam pemahaman mengenai sastra itu sendiri.

Arswendo Atmowiloto dalam novelnya Kau Memanggilku Malaikat, secara kasat mata menghadirkan unsur-unsur yang dapat menjadi indikasi sastra populer. Dari segi pengemasan, gambar pada sampul depan novel ini terpengaruh oleh pop kultur dengan gambar berbasis vektor dan permainan warna putih yang cukup menarik –berbeda dengan sampul depan karya-karya ‘sastra serius’ yang cenderung tidak menarik dan membosankan. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk menarik perhatian dan minat para konsumen untuk membaca (atau paling tidak, membeli) novel ini. Penulisan nama penulis dengan huruf berukuran besar juga merupakan salah satu permainan pasar dan menjadi suatu komoditas, mengingat Arswendo adalah seseorang yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat umum di Indonesia.

Akan tetapi, dari segi isi, novel ini tidak terlalu terikat dengan unsur-unsur konvensional sastra populer yang dirumuskan oleh Ken Gelder. Novel ini, meskipun memiliki alur yang kurang kompleks, menggunakan bahasa yang mudah dicerna, sehingga tidak salah apabila novel ini ditujukan kepada masyarakat secara umum. Sebagai hipotesis, novel ini berada dalam grey area, yakni titik tengah antara sastra populer dan ‘sastra serius’.

/2/ Kau Memanggilku Malaikat: Populerkah Malaikat?


Apakah malaikat merasa?
Ah, tentu saja malaikat tak merasa,
aku tidak bisa
menjadi malaikat karena aku merasa
(Ode Untuk Kapal, Agung Dwi Ertato)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pemunculan stereotype terhadap suatu tokoh dalam suatu karya sastra merupakan salah satu indikasi dari sastra populer. Sastra populer pada umumnya tidak ingin menyulitkan pembacanya, termasuk dalam mengimajinasikan tokoh-tokoh yang muncul. Oleh karena itu, digunakanlah suatu acuan dalam penggambaran tokoh yang muncul, yang secara tidak langsung telah disepakati secara umum.

Dalam novel Kau Memanggilku Malaikat karya Arswendo Atmowiloto, dimunculkan suatu tokoh imajiner berupa malaikat yang dapat terlihat kala seseorang telah mendekati ajalnya. Penggambaran tokoh malaikat dalam karya ini cenderung sama dengan malaikat dalam cerita-cerita lain; berpakaian serba putih, bersayap yang berwarna putih pula, dan dapat melintasi ruang dan waktu.

Malaikat yang tidak disebutkan memiliki sebuah nama ini dapat berinteraksi dengan manusia beberapa saat sebelum manusia itu meninggal. Melalui interaksi inilah konflik batin muncul, misalnya saat ia harus menjemput seorang gadis kecil pulang ke haribaan-Nya dan ia melihat begitu banyak yang harus ditinggalkan gadis kecil ini; cinta kasih, rasa ingin tahu, kesedihan serta kesabaran –hal-hal yang tidak dapat dirasakan oleh malaikat sepertinya. Hingga pada suatu saat ia berharap bisa merasakan segala perasaan manusiawi.

Itulah sayap mereka yang masih akan terus membuat terbang, melayang, membayangkan apa saja. Kadang dengan duka, kadang dengan airmata.
Airmata, itulah sebenarnya sayap yang paling penuh makna.
Aku berharap memilikinya.
(Kau Memanggilku Malaikat, hlm. 271)

Dalam salah satu bagian novel ini, malaikat diceritakan menjemput Ife, seorang gadis belia, yang ditembak oleh seorang polisi ketika melawan saat diperkosa. Ia mengetahui segala tentang Ife, bagaimana Ife begitu dipuja di kampungnya dan banyak lelaki yang menaruh hati padanya, hingga suatu malam saat Ife harus mengakhiri usianya. Malaikat tahu apa yang dirasakan oleh Ife, segala rasa bahagia hidup di tengah keluarga dan teman-temannya dan rasa takut bercampur marah ketika diperkosa, namun ia tak bisa merasakannya. Malaikat menginsyafi segala rasa yang diketahuinya itu merupakan rasa yang amat manusiawi, tanpa bisa ia turut merasakan.

“Kenapa kau diam saja?”
“Aku menjemputmu, aku tak bisa menolongmu.”
“Yaaaaa, percuma saja. Kasihan Ibu… kasihan Adik… kasihan Bang Bondan… Yeaaah, kenapa semua lelaki ingin memekosa? Karena saya cantik? Karena saya nafsuin? Kan saya tidak salah apa-apa…”
(Kau Memanggilku Malaikat, hlm. 60)

Sebagai malaikat, ia paham betul dengan apa yang dialami oleh Ife, namun semua berubah setelah ia bertemu dengan Di, gadis kecil yang menurutnya sama sekali berbeda dengan jutaan manusia yang pernah ia jemput selama ini. Di adalah gadis kecil berusia hampir empat tahun. Ia hidup di tengah lingkungan yang serba kekurangan namun sangat cukup membuatnya bahagia dengan memberikan cinta kasih yang tulus; Bapak, Ibu, Nenek, serta Um yang selalu menyayanginya.

Di divonis menderita penyakit di paru-parunya, yang menyebabkan ia tak bisa bertahan hidup lama. Ketika sinyal kematian ditemukan oleh malaikat, Di berhasil membuat malaikat terkejut karena mengatakan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya, saat Di berada di perut ibu. Padahal, malaikat tidak merasa pernah menjemput Di sebelumnya dan inilah yang membuat Di berbeda dengan manusia-manusia lain.

Di juga bisa tetap bermain-main di sekitar rumahnya, di dekat Bapaknya dan mengikuti Um pergi setelah ia meninggal –suatu hal yang sangat tidak biasa, yang seharusnya ia berada di dimensi lain bersama malaikat untuk menuju tahap kehidupan selanjutnya. Di berbeda dengan manusia lainnya, dan inilah yang menjadi konflik batin dalam diri malaikat. Sampai akhirnya saat Di harus benar-benar pergi –memasuki tahap kehidupan selanjutnya, ia merasa kehilangan.

Kini kutahu, atau kumerasa, bahwa aku yang mendampingi siapa pun, yang bergerak secara serentak dengan berbagai nyawa yang kujemput, juga menyisakan aku yang bisa sendiri, seperti sekarang.
Aku yang sendiri mencoba merasakan, bukan hanya mengerti, apa yang tak pernah kurasakan selama ini: cipratan lumpur kala gerimis, duka tapi bukan tangis, airmata, kangen.
Terutama yang pertama kali kurasakan.
Kehilangan.
(Kau Memanggilku Malaikat, hlm. 269)

Malaikat tidak memiliki kemampuan untuk merasa selayaknya manusia. Melalui berbagai peristiwa ‘penjemputan’ yang ia lakukan, malaikat menjadi semakin tahu betapa nikmat rasa itu, rasa yang membuat kita ada. Melalui perjumpaannya dengan Di, malaikat, yang cenderung tanpa rasa, untuk pertama kalinya merasa kehilangan –sesuatu yang sangat manusiawi.

Hal inilah yang menjadi konflik utama dalam novel ini. Konflik batin yang sangat sederhana, tidak berusaha membawa pembacanya pada alur-alur yang kompleks dan rumit, melainkan alur yang cenderung tanpa klimaks yang berarti. Dalam novel ini, ke-kompleks-an tidak terdapat dalam alur, melainkan dalam diri malaikat itu sendiri. Ini tentu saja kontradiktif dengan sifat karya populer yang cenderung menggemborkan alur yang begitu kompleks dengan klimaks yang, meski mudah ditebak, mampu mengejutkan para pembaca.

Dilihat dari segi bahasa, novel ini menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat secara umum, namun, apabila memang yang membaca adalah masyarakat awam yang kebutuhan akan hiburannya cukup tinggi, novel ini akan terasa amat membosankan. Jadi, dilihat dari segi isi, novel ini tidak bersifat populer. Kau Memanggilku Malaikat memang sarat menonjolkan unsur kepopulerannya melalui desain sampul, nama penulis yang ditulis dengan huruf besar dan embel-embel dari penulis bestseller, serta pemilihan bahasa yang cenderung mudah dicerna oleh siapa saja. Akan tetapi, dari segi alur novel ini tidak dapat mengelak jika disebut bukan sastra populer karena, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, alur dalam novel ini tidak kompleks dan sederhana.

Arswendo rupanya ingin mengemas sesuatu yang tidak populer menjadi ‘terlihat populer’ dan berdaya jual di pasaran. Hal ini berkaitan dengan strategi pemasaran karya-karya ‘sastra serius’ yang selama ini kurang diminati karena gambar sampulnya tidak menarik. Strategi ini cukup bagus, mengingat pola pikir masyarakat yang menilai sebuah buku dari sampulnya. Dengan demikian, suka atau tidak suka, ‘sastra serius’ mampu menyaingi daya jual sastra populer di pasaran.

/3/ Simpulan

Novel Kau Memanggilku Malaikat karya Arswendo Atmowiloto, secara kasat mata terlihat sebagai karya sastra populer yang dapat memikat para pembaca. Hal ini dapat dilihat dari kemasannya yang menarik serta bahasa yang digunakan. Akan tetapi, setelah ditinjau dari segi alur, novel ini cenderung bersifat serius dan sama sekali tidak populer, hanya saja bahasa yang digunakan memang mudah dicerna.

Alur dalam novel ini cenderung antiklimaks, satu hal yang kontradiktif dengan alur yang terdapat dalam karya sastra populer. Untuk dikatakan sebagai sastra populer, novel ini akan dinilai terlalu membosankan dan jauh dari kesan menghibur, melainkan memaksa dengan halus para pembacanya sedikit berpikir mengenai konflik batin yang ada dalam diri tokoh-tokoh yang dimunculkan.

Kau Memanggilku Malaikat sebenarnya merupakan karya ‘sastra serius’ yang dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian konsumen untuk membaca novel ini. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana, novel ini berhasil ‘memainkan’ strategi pemasaran karya ‘sastra serius’ yang selama ini dianggap hanya ‘tersentuh’ oleh golongan-golongan tertentu.

Daftar Pustaka

Atmowiloto, Arswendo. 2009. Kau Memanggilku Malaikat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Damono, Sapardi Djoko. 1999. Sastera Hindia Modern Sastera Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Ertato, Agung Dwi (ed.). 2010. Jalan Pulang: Buku Puisi MarkasSastra dan PSA-MABIM FIB UI 2009. Depok: 28w Artlab.
Gelder, Ken. 2004. Popular Fiction: The Logics and Practices of Literary Fields. London dan New York: Routledge.
Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsif Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Apr 15, 2011

Kereta Api


Kereta api itu datang lagi ke dalam mimpi, berjalan tak tentu arah di atas rangkaian rel yang hampir tak terlihat.

Pohon pohon seakan berlari di luar jendela, mengejar apa yang takkan pernah terkejar.

Di dalam suasana begitu menyihir: aroma tembakau dan kopi, warna warna coklat dan kuning, pramusaji yang rupawan dengan gelas gelas tinggi yang tetap seimbang di atas kereta yang melaju.

Kereta berhenti di sebuah kota yang tak kukenal dan mempersilahkanku turun.

Pramusaji rupawan menyarankanku mencari sebuah penginapan. Anda perlu istirahat.

Kereta api kembali melaju meninggalkanku di kota asing ini: pesonanya tak pernah berkurang.

(Juni 2010)

Secangkir Coklat Panas dan Sebuah Gula-gula


aku sudah tidak tertarik dengan coklat hangat ini maaf aku tuang saja milikku ke cangkirmu
kau hanya tersenyum melihat tingkahku muak pada coklat biasanya kau suka sekali coklat
maafkan aku sayang aku terus menuang coklatku
coklat ini memang terlalu banyak untukmu katamu kau tidak sanggup meminum semuanya

cangkirmu telah penuh dengan coklatku namun aku membiarkannya hingga coklatpun meluap tumpah
membasahi meja berkayu cemara. kau tetap tersenyum melihat tingkahku
hati hati sayang. aku membiarkan semuanya tumpah ini lebih baik karena aku sudah tak mau coklat
kini di cangkirku kosong dan di cangkirmu meluap coklat yang berceceran di sana sini

aku ingin merasakan manis tapi bukan coklat aku pun mengeluarkan gula gula dari kantong celana
kau masih tersenyum melihat tingkahku itu gula gula yang sudah lama kau simpan di kantongmu
baru sekarang aku memakannya. manis namun habis dalam sekejap
saat kusadari coklat di cangkirmu telah dingin dan cecerannya mengering di meja berkayu cemara

cangkirku kosong dan cangkirmu penuh coklat yang kini sudah tak bisa lagi diminum
tentu saja aku terlalu sibuk dengan gula gula tadi
aku bisa mengisi cangkirmu dengan coklat hangat lagi agar bisa kauminum tawarmu
tapi aku tak mau tahu. yang kutahu saat ini hanyalah gula gula manis namun tak hangat

sudahlah sayang kau tidak pernah tidak tersenyum mari kutuang coklat lagi ke dalam cangkirmu
tapi aku ingin cangkirku tetap kosong. mengapa kau memaksaku?
yang membekas di diriku kini adalah gula gula tadi bukan coklat hangat
dengan siapa aku berbagi bibir? apa yang kau cari, cinta?

(mei 2010)

Gadis dan Sepeda Tua


Sepeda tua itu terus menemaninya kemanapun ia pergi: melintasi taman ketika gerimis menjemput magrib atau menyeberangi jembatan berundak yang memotong sungai kecil di belakang rumahnya.

Ia tak tahu apa yang membuatnya sangat dekat dengan sepeda tua itu. Sepeda tua begitu setia dengannya, atau sebaliknya ia yang setia dengan sepeda tua.

Mungkin sepeda itu dulu milik ayahnya atau kakeknya, tapi siapa peduli. Ia hanya tahu sepeda tua itu tepat untuknya. Kadang ia ingin mencoba bertanya pada karat yang pula setia soal usia sepeda tuanya, tapi apatah arti usia? Maka ia urungkan niatnya bertanya pada karat atau pada rantai yang sudah mulai cerewet atau pada per yang sudah mulai mencuat dari jok sepedanya; rindu bebas.

Suatu hari ia berjalan melintasi taman sendirian; tanpa sepeda tuanya. Pun pada hari hari berikutnya. Sepeda tua rupanya sudah tak mau menemaninya berjalan jalan, atau sebaliknya ia yang tak mau ditemani berjalan jalan oleh sepeda tua. Ia tidak tahu, ia hanya sudah terbiasa sendirian.

Maka ia berjalan kaki saja, sambil terkadang bersenandung diam diam, menyepak nyepak daun daun kering dengan sepatu bot hitamnya, terkadang pula mengingat perjalanannya yang lalu dengan sepeda tua itu.

Terkadang ia berpikir sepedanya dulu pastilah amat gagah dengan roda roda yang lincah dan pandai menukik, dan ia pun tersenyum diam diam. Waktu terus berganti, gumamnya.

Ia tidak ingin membeli sepeda baru, karena hanya sepeda tua itu yang tepat untuknya, meskipun kini sepeda tua sudah tak hendak dipakainya lagi. Ia tidak membenci sepeda tuanya, ia hanya berpikir inilah saatnya.

Di pojok teras belakang rumahnya sepeda tua itu tersandar, melepas lelah. Ia mungkin merindukan kayuhan si gadis melintasi taman ketika gerimis menjemput magrib atau menyebrangi jembatan yang memotong sungai kecil di belakang rumah. Namun memang benar, inilah saatnya.

(Juni 2010)

Loving Kit


We sell loving kit and other things you may need
We have hearts and lips;
eyes with tears which quiet cheap
We have a great sale on weekend
people comes and loves to bargain
We sell loving kit with special price
that’s why love is always nice

8 April 2011