Jan 28, 2012

Suatu Pagi, Suatu Melodi


Ini kali kesepuluh ia memutar Liebestraum1 dari piringan hitamnya, pagi ini. “Bahkan ia belum mandi,” bisik perempuan di sebelahku, yang mendapat tugas menyiapkan segala kebutuhannya siang hingga malam. Aku menggulung lengan kemeja putihku hingga sikut, memasuki kamarnya yang menghadap halaman belakang.

“Aku suka Liebestraum. Kamu bisa jelaskan bagaimana Liszt menciptakan melodi seindah ini?” tanyanya tiba-tiba dengan tatapan tajam. Mata cokelat yang indah, juga rambut panjangnya yang seingatku senantiasa indah meski tanpa disisir.

Melodi yang indah. Siapa pun yang sedang jatuh cinta pasti suka mendengar melodi ini, berpuluh bahkan beratus kali, seperti yang ia lakukan. Barangkali ketika menciptanya, Liszt sedang jatuh cinta yang teramat hebat; barangkali. Tapi cinta saat ini, pasti terlalu sulit dimengerti olehnya. “Aku tidak tahu, Maya.”

“Aku selalu ingin bisa bermain piano. Kesalahan Ayah, ketika aku masih kecil tidak membelikanku piano. Katanya, harganya terlalu mahal. Mungkin suatu saat aku akan belajar bermain piano. Aku ingin belajar memainkan Liebestraum. Kamu mau mendengarkannya, jika suatu saat nanti aku bisa bermain piano?”

Angin dari halaman belakang berdesir melintasi deretan kata yang ia ucapkan, berputar di langit-langit kamar dan keluar lagi melalui jendela yang sama. Kini ia sibuk menata buku-buku yang berserakan di samping piringan hitam, menyusunnya dari yang paling besar hingga kecil.

“Tentu saja aku mau, Maya. Aku juga suka Liebestraum.”

“Aku juga ingin memainkan Chopin2, juga Clair de Lune3. Mau mendengarnya juga?”

“Aku mau mendengarkan apapun yang kamu mainkan, Maya.
Kamu belum mandi?”

Ia menggeleng. “Tolong nanti katakan pada perempuan itu, aku bisa mandi dan makan sendiri. Aku juga tak perlu bantuannya untuk merapikan kamarku.”

Aku membuka tas jinjing kulitku, mengeluarkan buku catatan dan pensil. Ia berpaling dari buku-bukunya sebentar, melihatku mencari-cari halaman tempat catatan terakhirku ditulis.

“Aku baik-baik saja, Indrasmara.”

“Aku tahu. Ini hanya untuk catatan saja,” jawabku tanpa berani melihat mata cokelatnya lagi. Aku selalu tak punya keberanian menatap matanya setiap ia mengucapkan kalimat ‘baik-baik saja’. Aku selalu tak punya keberanian untuk menangkap kebohongannya, “jika aku tak menulis ini, ayahmu akan marah.”

Ia tertawa. Tapi aku tak mengerti arti tawanya, apakah tertawa seperti anak kecil yang melihat balon-balon beterbangan ke angkasa, ataukah tertawa seperti orang kaya melihat orang miskin –setidaknya itulah yang terjadi belakangan ini, ‘kan?

Liebestraum terus mengalun, barangkali ini sudah yang keduapuluh kalinya. Rasanya seperti seabad.

“Kalau begitu tulis saja begini: keadaan Maya baik-baik saja, dan selalu baik-baik saja.” Ia bersijingkat menuju kursi kayu di hadapanku, melangkahkan kakinya pelan-pelan supaya tak mengotori kertas-kertas yang berserakan memenuhi kamar.

Tentu saja kamu tidak baik-baik saja, Maya. Orang yang baik-baik saja tak akan mendengarkan Liebestraum ratusan kali setiap harinya. Kami duduk berhadapan. Aku mulai menulis di buku catatanku. Ia juga mulai membuka buku yang sedari tadi digenggamnya, bersiap larut ke dalamnya. Ini lebih baik, sebab ia jadi tak melihat apa yang aku tulis dan protes seperti biasanya.

“Kamu tahu, aku benci halaman setelah halaman terakhir setiap buku cerita.” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku di atas pahanya.

“Kebencianmu tak berarti apa-apa, Maya.”

Ia menutup buku. “Kamu bisa menjelaskan, apa yang terjadi setelah suatu cerita berakhir? Kamu tak akan pernah bisa, Indrasmara. Bahkan penulisnya sendiri pun tak pernah bisa. Bahkan Shakespeare pun tak bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan Malcolm4 setelah ia menggantikan Macbeth.”

Kepalaku mulai sakit mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya, ditambah lagi Liebestraum yang seakan akan terus diputarnya hingga hari kiamat. Barangkali jika dapat berbicara, piringan hitam itu juga akan berteriak: cukup! Aku muak! “Maya, kadang ada sesuatu yang kita tak perlu mengerti.”

“Sesuatu itu yang bisa berarti apa saja. Apa saja; mungkin saja setelah pernikahannya, Odette5 berhenti mencintai Derek, atau sebaliknya, kemudian mereka berpisah dan Odette menemukan cinta sejatinya. Mungkin saja, ‘kan?”

Aku mengangkat kepalaku, menatap mata cokelatnya yang indah, yang tak ada satu orang pun yang menyangka ada luka jauh di dalam sana. Bagaimanapun yang ia katakan hanyalah bentuk penyangkalan dari apa yang ia rasakan.

“Lalu apa arti cerita-cerita yang dibangun sedemikian rupa, yang sengaja dibuat untuk meremukkan dan meredamkan hati kita dan kemudian disinari harapan lagi hingga akhirnya kita merasa bahagia? Barangkali dunia tak pernah seindah yang bisa kita bayangkan, Indrasmara. Karena itulah aku benci halaman setelah halaman terakhir dari buku cerita, karena bisa berarti apa saja.”

“Baiklah, mungkin kebencianmu ada artinya, Maya.” aku menarik napas panjang.

“Boleh aku menyobek setiap halaman setelah halaman terakhir di semua buku yang aku punya?”

Rambutnya yang panjang kini tertiup angin. Anak-anak rambut menutupi sebagian pipinya yang belum juga dicuci sejak bangun tidur subuh tadi. Bagaimana mungkin seseorang tega menyakitimu, Maya.

“Tentu saja boleh, Maya. Itu buku-buku milikmu.”

Tanpa sepatah kata pun ia membuka buku yang tadi ia baca dan menyobek halaman setelah halaman terakhir. Sedetik kemudian ia sudah berada di hadapan lemari buku di sudut kamar, mengeluarkan buku-buku yang hampir berdebu dan menyobeki halaman-halaman yang ia benci satu demi satu. Lantai kamar semakin penuh dengan sobekan kertas putih di sana-sini. “Ini akan memakan waktu yang lama,” ucapnya.

Liebestraum masih mengalun. Melodi-melodinya menjerit seakan ingin semua orang tahu kedalaman cinta melalui titi nada. Aku terus mengamatinya dari kursiku. Wajahnya cukup tenang untuk seorang wanita yang sedang bergolak hatinya.

“Maya, apakah kamu masih merasa mual6 setiap kamu mengingatnya?”

Seketika ia menghentikan kegiatannya dan menatap mataku dengan tatapan yang sedalam cintanya, “Selalu.”

Aku menulisi buku catatanku dengan beberapa kalimat terakhir. Barangkali sudah cukup untuk hari ini. Hari ini. Tapi aku belum tahu apakah besok aku akan datang lagi ke tempat ini.

“Jaga dirimu baik-baik, Maya.” pamitku sambil berjalan menuju pintu kamar, setelah sebelumnya menyempatkan diri menatap mata cokelatnya lagi. Ia hanya menengok sebentar dan tersenyum, lalu kembali sibuk dengan buku-buku yang disobekinya.

Mungkin ia benar, barangkali dunia tak pernah seindah yang bisa kita bayangkan.

Mungkin cinta Odette dan Derek bukanlah cinta yang sejati, melainkan hanya sebagian cerita kehidupan yang tak berarti apa-apa. Mungkin aku memang tak pernah bisa mengerti perasaannya. Aku memang tak pernah bisa mengerti rasanya ditinggalkan kekasih tepat ketika sedang berdiri di atas altar. Aku memang tak pernah bisa mengerti rasanya ketika tahu bahwa orang yang aku cintai ternyata lebih memilih untuk pergi bersama orang lain. Tepat ketika aku sedang berdiri di atas altar.

Maka kalimat terakhir yang aku tulis di buku catatanku adalah “Barangkali Maya akan lebih baik seperti ini.”

Kubayangkan kini ia masih menyobeki halaman-halaman terakhir buku-bukunya sambil mendengarkan Liebestraum untuk kesekian juta kalinya.


29 Januari 2012



catatan:
1 Salah satu musik klasik gubahan Franz Liszt.
2 yang dimaksud dengan Chopin di sini adalah Chopin’s Prelude in E minor opus 28 no. 4, musik klasik gubahan Frederic Chopin.
3 salah satu musik klasik gubahan Claude Debussy.
4 tokoh yang menggantikan posisi Macbeth sebagai jenderal dalam cerita Macbeth karya William Shakespeare.
5 tokoh utama dalam cerita The Swan Princess. Derek adalah nama kekasihnya.
6 salah satu gejala depresi akut adalah merasa mual/tidak enak badan setiap kali mengingat hal yang menjadi ketakutan penderita.

Jan 25, 2012

Love Dream


“You know, I’ve killed the time.”

“No, Honey. Time killed you...”

“We’re eternal, now.”

“No, Honey. You’re dead. No such thing like...”

“Honey, I’m scared.”

“I know.”

“Can you tell me what happens with Cinderella after she lives with the Prince and spends the rest of her life in castle?”

“I don’t know. But she’s happy.”

“Are you sure?”

“Probably, Honey.”

“But something happened. Times went by.”

“Honey, we should not cry for tomorrow. We should not against the time.”

“I just don’t want time ruins it.
...
Romeo and Juliet are happy.”

“But they’re dead, Honey.”

“They killed the time.”

“No, Honey. Time killed both of them.”

“Suicide is the best way, maybe.”

“So, you think that they’re happy, up there?”

“Things will happens, Honey. Things will happens. I just can’t face it.”

“You’re happy, Honey. There’s nothing else to worry.”

“I should be a very-happy bride.”

“You are, Honey. But you’re dead...”

“Because I don’t want time ruins it. Everything’s so perfect, you know, I just don’t want time changes it.
...
No one on earth could love you like this, Honey. Deeply.”


And they keep dancing over the night sky.


25 January 2012
Liebestraum

Jan 7, 2012

Wanita yang Ingin Membunuh Waktu



"I could die right now, Clem. I'm just...happy. I've never felt that before. I'm just exactly where I want to be.." -Joel Barish



Aku punya sebuah cerita tentang seorang wanita yang ingin membunuh waktu:

Hari itu tepat dua hari sebelum pernikahannya, ia pandangi dirinya di depan kaca; mereka-reka, menyusuri garis-garis halus di wajahnya, menembus ingatan-ingatannya di masa lalu lewat sepasang matanya.

Ia bahagia, setelah bertahun-tahun mencintai lelaki yang sama, cinta pertama.

Di kamarnya, tergantung gaun putih berenda; gaun impian yang telah disimpannya sekian lama, juga lagu-lagu cinta yang ia kumpulkan kata demi kata.

Ia bahagia, nyaris sempurna. Mungkin ia bahagia, hingga ia memutuskan inilah akhir dari cerita hidupnya, bahagia seperti yang ia baca di buku-buku cerita.

Hari itu tepat dua hari sebelum pernikahannya, ia pandangi wajahnya yang berlumur airmata di depan kaca, menyadari dirinya telah berada di titik tertinggi dalam hidupnya.

“Barangkali waktu yang akan mengacaukan segala”, desisnya, dan tanpa pernah ia sadari, ketakutannya akan waktu sudah terlalu dalam mencengkeram, hingga merobek syaraf serta urat nadinya.

Ia menyeka airmata, mengendap-endap ke kamar ayahnya, mengambil revolver yang nyaris tak pernah tersentuh, dan kembali ke kamarnya. “Barangkali waktu yang akan mengacaukan segala.”

Hari itu tepat dua hari sebelum pernikahannya, ibunya menjerit pilu menemukan anak gadisnya terbaring kaku dengan lubang di kepala dan secarik kertas dalam genggaman: “Tak ada yang bisa mencintaimu sedalam ini, kekasih.”

Ia tak berhasil membunuh waktu. Sebaliknya, waktu yang diam-diam membunuhnya.



7 Januari 2012, lima tahun.

Dec 29, 2011

Kepada Maya


Selamat malam, Maya.

Mungkin aku bukan malaikat, tapi jika kamu mau aku adalah malaikat, maka baiklah, aku malaikat. Mungkin, jika itu maumu, aku adalah malaikat yang pada akhirnya mencoba berpura-pura berteman dengan kehidupan. Dan mungkin, jika itu maumu, aku adalah malaikat yang turun dari semburat awan kelabu sambil bersenandung lagu-lagu dari nirwana. Tapi sebenarnya begitu lucu ketika melihatmu masih saja berkutat dengan malaikat.

Aku ada. Sayangnya, kata-kataku terbatas untuk memberitahumu bahwa aku ada. Kamu tahu, mungkin semesta terlalu singkat untuk dapat mempertemukan kita. Maka inilah aku; sibuk menerka-nerka senyummu. Mungkin aku juga harus menerka-nerka bagaimana caranya kamu tertawa.

Kamu pasti tak pernah menyangka, lagu-lagu yang mulanya sederhana di telingamu, dapat membawamu kepada cinta yang sedalam ini. Lucu, melihatmu pusing mempelajari rumus pertemuan dan perpisahan, melupakan dan dilupakan. Pada akhirnya waktu pula yang akan menggerus ingatanmu. Tapi aku suka caramu menggoreskan kuas dan bermain dengan retorika di atas kertas. Waktu tidak akan menggerus ingatanku, aku abadi.

Sampai kapan kamu berpura-pura semuanya baik-baik saja, Maya? Bagaimana jika dunia ini berujung dengan akhir yang sama sekali tak pernah kamu duga? Sepanjang hari kamu tidak berhenti bertanya “mengapa?”, aku tahu kamu rindu. Aku tahu kamu rindu ucapan selamat pagi seperti di mimpimu tadi. Bahkan dalam mimpi pun kamu setengah tak percaya. Tapi aku suka caramu menikmati segala yang kamu pikirkan, segala yang kamu pertanyakan.

Aku tahu kamu rindu begitu dalam, begitu dalam hingga urat nadi dan mencekik lehermu. Tapi kamu tahu bagaimana caranya untuk tidak menangis, malam ini. Kamu tahu bagaimana caranya dunia berputar tidak searah. Cinta yang kamu mau, bahkan tak tertulis dalam buku cerita. Barangkali aku baru bisa menemukannya dalam kitab –entah kitab yang mana. Kini kamu berpikir bagaimana caranya Tuhan merencanakan semua; betapa cinta bekerja dengan caranya yang tak bisa dimengerti. Aku ingin sekali menjemputmu subuh nanti, menyelamatkanmu dari mimpi-mimpi yang hampir berkarat namun tetap kamu nanti.

Mari melupakan selagi semua masih bahagia.



"di subway,
aku tak tahu saat pun sampai..."



Jakarta, 29 Desember 2011

dua bait terakhir adalah penggalan sajak Goenawan Mohamad, Senja pun Jadi Kecil, Kota pun Jadi Putih.

Dec 3, 2011

Senja di Sudut Dermaga


Aku baru saja merebahkan tubuhku di sudut dermaga ketika kulihat seberkas cahaya merah semburat dari balik awan, turun ke bumi. Mulanya aku sangka itu cahaya senja, namun seketika cahaya itu hilang di tengah lautan. Sudut dermaga sepi tanpa hingar-bingar camar. Mungkin hanya aku yang melihat cahaya merah yang begitu gaib tadi.

Saat itu aku tak peduli kemana semua orang pergi, aku hanya ingin melihat bentuk-bentuk awan yang beraneka dari sudut dermaga. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok yang berdiri di tengah awan kumulus. Jantungku berhenti. Sepersekian detik aku meyakinkan diriku bahwa yang kulihat adalah hantu, ataukah malaikat? Aku tak pernah melihat hantu sebelumnya, apalagi malaikat. Ia menatap jauh ke angkasa, dengan kuas yang ia genggam di tangan kanannya. Saat itulah kamu datang.

Kamu datang, dengan jas dan pantalon hitam. Semua akan baik-baik saja, katamu waktu itu. Kamu sungguh berbeda. Aku pikir, malaikat selalu memakai jubah putih yang keperakan. Ternyata buku-buku cerita itu salah. Tanpa mengucap sepatah kata, kamu berbaring di sisiku, ikut menyaksikan awan-awan nun di atas sana. Itu siapa? Tanyaku sambil menunjuk sosok di tengah awan tadi. Manusia, sama sepertimu. Ia kembali menghadapNya, jawabmu tenang. Detik itu juga aku melihat banyak manusia di atas sana. Begitu banyak yang pergi, ya?

Suatu saat aku juga akan pergi. Aku ingin melebur bersamaNya. Tiba-tiba aku ingat cerita ayah tentang hari akhir, di mana empatpuluh hari sebelumnya orang-orang beriman akan mati oleh kabut yang entah apa namanya. Aku bergidik ngeri, tapi alangkah bahagianya aku jika termasuk ke dalam orang-orang beriman itu.

Aku hanya takut tak bisa bertemu orang-orang di sekitarku, bisikku, ada jutaan manusia di atas sana. Kamu tersenyum. Mungkin kamu sendiri tak tahu jawabannya, mungkin juga kamu sengaja tak mau memberitahu. Angin laut berhembus meniup rambutku yang tergerai panjang ke wajahmu. Sementara di atas sana, semakin banyak manusia yang berkerumun, saling berpegangan tangan di antara awan yang bergumpal seperti kapas.

Dermaga semakin sepi, matahari semakin turun. Tiba-tiba aku ingin sekali bernyanyi, bernyanyi apa saja, agar ada suara yang kudengar selain pertanyaan-pertanyaanku dan jawaban-jawaban singkatmu. Semua akan baik-baik saja, katamu lagi. Baiklah, kamu boleh bernyanyi.

Aku bersenandung lagu yang aku suka, yang pernah aku dengar di sebuah mini konser dulu, dulu sekali bersama teman-teman. Mungkin kini teman-temanku juga ada di atas sana bersama jutaan manusia lainnya, bahkan bersama penyanyi lagu yang aku senandungkan. Mereka pasti bahagia.

Lalu kapan aku dipanggilNya? tanyaku tiba-tiba.

Seketika kamu mengulurkan tangan, kita berdua berpegangan tangan sambil rebah di sudut dermaga yang sunyi.

Ternyata rasanya luar biasa
.


3 Desember 2011

Nov 25, 2011

Seseorang Menunggumu dalam Hujan


Seseorang menunggumu dalam hujan,
membiarkan rintik membasahi waktu tiada menentu.

Dalam sepasang matanya terkunci rindu tanpa lekang
oleh malam temaram,

dalam genggamannya sepenggal puisi larut bersama harum kesturi.

Barangkali rindu adalah kata kata yang tak mampu
mencapai ujung bibir maupun ujung jari.

Keluarlah, seseorang menunggumu dalam hujan,
membiarkan dirinya ditelan mimpi dari tahun tahun silam.


1 Oktober 2011

Nov 14, 2011

Wayang dan Sastra Sekarang


/1/
Sebagai salah satu hasil dari kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa, wayang menjadi suatu kesenian yang banyak mempengaruhi bentuk-bentuk kesenian lainnya. Secara harfiah, wayang berasal dari kata bayang, sesuai dengan cara pementasan wayang kulit yang menggunakan layar (kelir) dan pelita (blencong), meskipun dalam perkembangannya jenis wayang semakin beraneka; wayang golek, wayang klithik, dan lain-lain.
Wayang, selain sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan, juga merujuk pada cerita yang dilakonkan dalam wayang itu sendiri, yang sering disebut dengan cerita pewayangan, seperti Mahabbaratha dan Ramayana yang begitu melegenda. Dua judul yang selalu menjadi cerita besar dalam pertunjukan wayang ini berasal dari India, akan tetapi cerita-ceritanya juga dikenal dan tersebar luas di tanah Jawa dan menjadi semacam mitologi.
Pada paragraf sebelumnya, saya menyebutkan bahwa wayang menjadi suatu bentuk kesenian yang banyak mempengaruhi bentuk-bentuk kesenian lainnya. Hal ini jelas, karena wayang menjadi salah satu bentuk seni pertunjukan yang paling banyak dieksplorasi dan diadaptasi ke dalam bentuk-bentuk seni lain, misalnya, yang dalam hal ini paling banyak mengadaptasi kisah-kisah pewayangan, yaitu seni sastra.
Eksistensi wayang muncul dalam bentuk narasi, dialog, dan tokoh-tokoh yang dianggap dapat menjadi simbol suatu karakter, yang dalam hal ini menurut Sears merupakan ”anggur baru dalam botol lama”, yaitu cerita wayang dan pertunjukan wayang selalu sudah kosong, tengah menunggu untuk diisi lagi oleh pendongeng baru dengan cerita baru, sehingga cerita wayang akan selalu ada menghiasi wajah sastra kontemporer, tentu saja dengan kisah dan pesan-pesan yang selalu baru.

/2/
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, wayang merupakan suatu mitologi yang hingga saat ini, meskipun sulit ditentukan apakah cerita-cerita –bahkan tokoh-tokoh dalam wayang itu sendiri pernah benar-benar ada atau tidak, tetap diyakini oleh masyarakat dan seringkali dijadikan pedoman. Hal ini wajar, sebab cerita wayang mengandung banyak nilai moral yang sebenarnya tidak hanya bisa didapat dari kitab dan sumber literatur lain saja.
Sebagai suatu mitologi yang diceritakan secara lisan, didengar, dan diolah bersama oleh suatu masyarakat secara kolektif, wayang, menurut Mangunwijaya, menjaga integritas dan ikatan bersama; melangsungkan pola dan konsep-konsep kesemestaan yang diakui selaku standar warisan yang dianggap abadi. Hal inilah yang merupakan salah satu dari sekian banyak alasan yang menyebabkan wayang selalu dapat bertahan dari masa ke masa, meskipun beberapa di antaranya harus mengalami perubahan di sana-sini.
Sebut saja Sindhunata, yang menggubah kisah Ramayana menjadi Anak bajang Menggiring Angin. Jika boleh disebutkan, isi dari Anak Bajang Menggiring Angin ini tidak jauh melenceng dari pakemnya, akan tetapi Sindhunata menulisnya kembali dengan kosa kata yang indah dan puitis, sehingga kita sebagai pembaca mendapatkan semacam produk baru dari Ramayana yang dikemas dengan lebih indah.
Adaptasi cerita wayang lainnya juga muncul dalam sastra Indonesia kontemporer berupa nama-nama yang diyakini dapat menjadi representatif dari tokoh yang diceritakan, misalnya nama Arjuna digunakan untuk tokoh yang memiliki paras tampan, Gandhari yang melambangkan cinta yang buta, Bima untuk tokoh yang memiliki badan besar, dan lain-lain. Belakangan saya menemukan bahwa sastra bergenre populer juga mulai mengadaptasi cerita pewayangan yang kemudian diplesetkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, meskipun sebagian besar masih sebatas penamaan tokoh-tokoh dan garis besar ceritanya saja, bahkan terkadang cerita yang disajikan sangat melenceng dan berkebalikan dengan cerita pewayangan yang sesungguhnya, misalnya Arjuna Mencari Cinta dan Arjuna Wiwaha Ha Ha.
Berbicara mengenai tokoh pewayangan sebagai representatif suatu tokoh atau keadaan, pada tahun 1928 Roestam Effendi berhasil menggubah kisah Ramayana menjadi sebuah naskah drama berjudul Bebasari. Dalam Bebasari, secara umum kita dapat menemui kisah Ramayana seperti yang selama ini kita kenal. Akan tetapi, jika ditelisik lebih jauh, Bebasari sebenarnya adalah sebuah bentuk perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonial yang dirangkum dalam naskah drama pendek. Semua tokoh dalam Bebasari; Budjangga –yang berasal dari kata bujangan, Sita, dan Rawana, serta jalan ceritanya merupakan simbol-simbol yang diharapkan Roestam Effendi dapat dipahami masyarakat sebagai gambaran keadaan Indonesia pada saat itu.

Kakanda, dari zaman berganti zaman.
Tatap hatiku menanti tuan.
Kakanda bakal membawa merdeka.
Sebab tjintamu kepada loka.

(Bebasari, hlm. 59)

Selain Roestam Effendi, Sindhunata dalam novelnya, Perang, juga menjadikan kisah pewayangan sebagai wahana dan ruang untuk mengejek tatanan sosial dan politik di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa cerita pewayangan selalu berhasil melewati segala persoalan zaman, dibuktikan dengan kemunculan berbagai naskah mulai dari pra hingga pasca kemerdekaan Indonesia.

Wayang juga diakui dapat menjadi representatif atas isu-isu yang tengah merebak. Sebagaimana yang kita ketahui, dewasa ini banyak wanita yang mulai angkat bicara dalam isu kesetaraan gender. Dorothea Rosa Herliany dalam puisinya yang berjudul Elegi Sinta, mengisahkan Sinta yang tidak sudi membakar dirinya ke dalam api suci hanya demi seorang pengecut bernama Rama. Kekecewaan terlihat jelas dari tokoh aku-lirik yang bahkan lebih rela dirinya bermandikan dosa bersama Rahwana daripada kembali pada seorang penakut seperti Rama.


kuburu rahwana
dan kuminta ia menyetubuhi nafasku
menuju kehampaan langit.
kubiarkan terbang, agar tangan yang
takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku


Dalam puisinya, Dorothea berusaha menyampaikan bahwa wanita tidak selemah yang selama ini dibayangkan kaum pria melalui tokoh Sinta yang kita kenal sebagai sosok yang konservatif, namun dalam puisi ini digambarkan berani menantang sosok Rahwana. Hal senada juga disampaikan Subagio Sastrowardoyo dalam puisinya yang berjudul Asmaradana. Ternyata wayang sebagai simbol atas isu gender yang tengah ramai dibicarakan tidak hanya digunakan oleh wanita penyair, melainkan juga pria.
Dari beberapa contoh di atas, maka sudah jelas bahwa wayang mampu menjadi blue print hampir dalam setiap keadaan dari masa ke masa, khususnya yang kemudian direkam dalam bentuk karya sastra. Wayang sebagai suatu mitologi yang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, tak dapat dielak sebagai suatu cerita universal yang akan selalu abadi.

/3/

Eksistensi wayang dalam sastra Indonesia kontemporer tidak dapat lagi disangkal karena wayang merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang paling banyak dieksplorasi dan diadaptasi ke dalam bentuk-bentuk seni lainnya. Wayang yang merupakan mitologi yang diyakini dan dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, menjadi suatu produk yang dapat bertahan dari masa ke masa. Tidak hanya bertahan, cerita pewayangan juga mampu berkembang sesuai perkembangan zaman dan selalu berhasil menjadi simbol-simbol suatu keadaan dan isu yang sedang terjadi di negeri ini.



DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Roestam. 1953. Bebasari. Jakarta: Balai Pustaka.
Herliany, Dorothea Rosa. 2006. Santa Rosa. Yogyakarta: Indonesia Tera.
Mangunwijaya, Y. B. 1988. Sastra dan Religiousitas. Yogyakarta: Kanisius.
Sastrowardoyo, Subagio. 1995. Dan Kematian Makin Akrab. Jakarta: Grasindo.
Sindhunata, 1983. Anak Bajang Menggiring Angin. Jakarta: PT. Gramedia.